Attention Economy: Di Mana Ada Viral, di Situ Ada Cuan

Ketika kemarahan menjadi komoditas, perhatian menjadi mata uang, dan algoritma ikut menentukan apa yang kita bicarakan.

Pernah memperhatikan bagaimana sebuah berita tiba-tiba menguasai seluruh media sosial?

Pagi hari kita membuka Instagram, muncul satu persoalan yang mengundang kemarahan. Siangnya, persoalan yang sama ramai di TikTok. Sore hari masuk ke grup WhatsApp. Malamnya, berbagai tokoh, influencer, hingga media nasional ikut membicarakannya.

Semua orang seakan sedang membahas hal yang sama.

Ada yang marah, membela, menghujat, menyindir, bahkan saling menyerang di kolom komentar. Belum selesai persoalan itu, keesokan harinya muncul lagi isu baru yang tidak kalah menghebohkan.

Sementara itu, sejumlah persoalan penting lainnya perlahan menghilang dari percakapan publik. Bukan karena beritanya tidak ada, melainkan karena perhatian kita sudah berpindah.

Pernah bertanya, mengapa fenomena ini terus berulang?

Jawabannya mungkin berkaitan dengan sebuah konsep yang disebut Attention Economy, atau ekonomi perhatian.

Ketika Perhatian Menjadi Barang Berharga

Dahulu, informasi merupakan sesuatu yang mahal dan sulit diperoleh. Kita menunggu koran pagi, berita televisi, atau siaran radio untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Sekarang situasinya berbalik.

Informasi datang tanpa diminta. Setiap detik ada ribuan konten baru yang berebut tempat di layar ponsel kita.

Justru di tengah kelimpahan informasi itu, ada sesuatu yang semakin langka: perhatian manusia.

Herbert A. Simon, ilmuwan peraih Nobel Ekonomi, sudah menjelaskan gagasan ini sejak 1971. Ketika informasi semakin melimpah, perhatian manusia justru menjadi sumber daya yang semakin terbatas.

Sederhananya, kita memiliki semakin banyak informasi untuk dilihat, tetapi tidak memiliki tambahan waktu untuk memperhatikannya.

Inilah fondasi ekonomi perhatian.

Dalam ekonomi konvensional, perusahaan bersaing mendapatkan uang konsumen. Dalam ekonomi digital, perusahaan juga bersaing mendapatkan waktu dan perhatian mereka.

Coba perhatikan. Instagram, TikTok, YouTube, portal berita, bahkan aplikasi belanja, semuanya berlomba membuat kita bertahan lebih lama.

Semakin lama seseorang berada di suatu platform, semakin besar peluang platform tersebut menampilkan iklan, mengumpulkan sinyal minat pengguna, dan menciptakan nilai ekonomi.

Perhatian yang dahulu hanya menjadi aktivitas manusia, kini menjadi bagian penting dari sebuah model bisnis.

Di Mana Ada Viral, di Situ Ada Cuan

Bayangkan sebuah video berdurasi 30 detik.

Isinya adalah potongan pernyataan kontroversial seseorang. Tidak ada penjelasan lengkap, tidak ada konteks yang memadai. Hanya satu kalimat yang cukup membuat banyak orang tersinggung.

Video itu kemudian dibagikan ribuan kali.

Orang-orang berkomentar, membantah, membuat video tanggapan, hingga mengajak orang lain ikut bereaksi.

Dari satu video, lahirlah ratusan konten baru.

Siapa yang mendapatkan keuntungan?

Pembuat konten bisa memperoleh peningkatan jangkauan, pengikut, atau peluang kerja sama komersial. Media mendapatkan kunjungan. Platform memperoleh aktivitas pengguna dan kesempatan menayangkan iklan.

Tentu, tidak setiap video viral langsung menghasilkan uang bagi pembuatnya. Pendapatan bergantung pada sistem monetisasi, kelayakan akun, iklan, dan bentuk kerja sama yang tersedia.

Namun, satu hal cukup jelas: perhatian memiliki nilai ekonomi, sekalipun perhatian itu muncul karena kemarahan.

Dan di sinilah muncul persoalan yang menarik.

Bagi sistem yang mengukur keberhasilan melalui interaksi, komentar kemarahan tetap tercatat sebagai aktivitas. Begitu juga perdebatan panjang, unggahan ulang untuk mengecam, atau video tanggapan yang justru memperluas penyebaran isu.

Kita mungkin merasa sedang melawan sebuah konten. Tetapi tanpa disadari, reaksi kita juga dapat membantu konten tersebut menjangkau lebih banyak orang.

Lucunya, terkadang kita ikut mempopulerkan sesuatu yang sebenarnya tidak kita sukai.

Mengapa Kemarahan Begitu Menarik?

Tidak semua konten viral lahir dari kemarahan. Hiburan, inspirasi, rasa penasaran, dan kepedulian sosial juga dapat membuat sebuah konten menyebar luas.

Namun, kemarahan memiliki kekuatan tersendiri.

Ketika seseorang merasa nilai yang diyakininya dilanggar, dorongan untuk bereaksi bisa menjadi sangat kuat. Apalagi jika persoalan itu menyentuh agama, rasa keadilan, identitas kelompok, atau kepentingan masyarakat.

Sebuah penelitian dari Yale University yang diterbitkan dalam Science Advances pada 2021 mengkaji sekitar 12,7 juta unggahan Twitter dari 7.331 pengguna, serta melakukan eksperimen perilaku.

Temuannya menarik. Umpan balik sosial, seperti tanda suka dan pembagian ulang, dapat memperkuat kecenderungan seseorang untuk mengekspresikan kemarahan moral di media sosial.

Dengan kata lain, respons yang kita terima bisa memengaruhi cara kita bereaksi pada kesempatan berikutnya.

Bayangkan seseorang membuat unggahan biasa dan mendapatkan sedikit tanggapan. Kemudian ia membuat unggahan bernada marah, lalu mendapatkan ribuan respons.

Ia bisa belajar bahwa kemarahan merupakan cara efektif untuk memperoleh perhatian.

Ketika pola semacam ini terus mendapat imbalan sosial, percakapan digital berisiko berubah menjadi perlombaan untuk menghasilkan reaksi, bukan memperdalam pemahaman.

Ini tidak berarti semua kemarahan salah. Kemarahan terhadap ketidakadilan bisa menjadi awal perubahan sosial yang penting.

Persoalannya muncul ketika emosi sengaja dieksploitasi atau ketika orang terlalu cepat bereaksi sebelum memahami persoalan secara utuh.

Apakah Kita Sedang Dikendalikan Algoritma?

Algoritma media sosial bekerja dengan berbagai sinyal untuk memperkirakan konten apa yang relevan dan menarik bagi pengguna.

Apa yang kita tonton, berapa lama kita menonton, apa yang kita komentari, dan konten mana yang kita bagikan dapat menjadi bagian dari sinyal tersebut.

Akibatnya, apa yang muncul di layar kita tidak selalu mencerminkan persoalan yang paling penting di masyarakat.

Bisa jadi, yang muncul justru persoalan yang diperkirakan paling mampu mempertahankan perhatian kita.

Ada perbedaan besar antara sesuatu yang penting untuk diketahui dan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan.

Persoalan pendidikan, kebijakan ekonomi, lingkungan, atau putusan hukum bisa membutuhkan waktu untuk dipahami. Sebaliknya, sebuah video kontroversial cukup beberapa detik untuk mengundang reaksi.

Keduanya bisa sama-sama penting. Tetapi dalam perebutan perhatian digital, keduanya tidak selalu memiliki peluang penyebaran yang sama.

Lalu muncul pertanyaan lain: mungkinkah situasi ini dimanfaatkan pihak tertentu?

Tentu saja, perhatian publik dapat menjadi sasaran strategi komunikasi. Dalam kajian komunikasi politik, dikenal praktik strategic distraction, yakni upaya menggeser perhatian dari satu persoalan ke persoalan lainnya.

Tetapi kita perlu berhati-hati. Tidak setiap peristiwa viral merupakan propaganda atau pengalihan isu yang disengaja.

Terkadang sebuah isu menjadi viral secara alami karena masyarakat benar-benar merasa terusik. Pada kesempatan lain, ada kelompok yang mencoba memanfaatkan perhatian tersebut untuk kepentingannya.

Membedakan keduanya memerlukan bukti, bukan sekadar kecurigaan.

Yang jelas, di tengah ekonomi perhatian, pertanyaan kita seharusnya tidak berhenti pada, “Mengapa isu ini viral?”

Kita juga perlu bertanya, “Mengapa saya begitu terdorong untuk memperhatikannya?”

Viral Belum Tentu Membangun Brand

Lalu, apa hubungannya dengan branding?

Sangat erat.

Hari ini, banyak perusahaan, organisasi, bahkan individu berlomba membuat konten viral. Jumlah penonton, komentar, dan pengikut sering dijadikan ukuran utama keberhasilan komunikasi.

Padahal, mendapatkan perhatian hanyalah satu bagian dari proses membangun brand.

Seseorang bisa mengenal sebuah brand karena kontroversi, tetapi belum tentu menyukainya. Ia bisa mengingat sebuah perusahaan karena kasus yang viral, tetapi bukan berarti akan mempercayainya.

Dikenal tidak selalu berarti disukai. Diingat tidak selalu berarti dipercaya.

Coba bayangkan dua brand.

Brand pertama memiliki video yang ditonton jutaan kali karena sebuah kontroversi. Banyak orang membicarakannya, tetapi percakapan tersebut dipenuhi kekecewaan dan ketidakpercayaan.

Brand kedua mungkin hanya memiliki puluhan ribu penonton. Namun, kontennya konsisten memberikan edukasi, menjawab kebutuhan audiens, dan memperlihatkan pengalaman pelanggan yang positif.

Mana yang sebenarnya sedang membangun brand lebih kuat?

Jawabannya tidak cukup dilihat dari jumlah views.

Kita harus melihat persepsi yang terbentuk, pengalaman yang dirasakan, ingatan yang tertinggal, dan kepercayaan yang tumbuh.

Dalam strategi branding, perhatian seharusnya menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan yang lebih bermakna, bukan sekadar angka yang dirayakan.

Karena itu, ukuran keberhasilan komunikasi perlu bergerak lebih jauh: dari sekadar dilihat, menuju dipahami, dipercaya, dan akhirnya dipilih.

Viral memang dapat mendatangkan perhatian dalam waktu singkat. Tetapi brand yang kuat membutuhkan konsistensi dalam waktu yang panjang.

Jangan Sampai Perhatian Kita Menjadi Milik Orang Lain

Laporan Digital 2026 Indonesia dari We Are Social dan Meltwater menggambarkan betapa besarnya ruang ekonomi perhatian di negeri ini.

Pada Oktober 2025, Indonesia tercatat memiliki sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial. Angka ini merupakan identitas akun yang terukur, bukan berarti 180 juta individu unik.

Laporan tersebut juga memperkirakan masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 21 jam 50 menit per minggu untuk aktivitas media sosial, termasuk menonton video daring.

Lebih dari tiga jam setiap hari.

Bayangkan berapa banyak informasi yang kita lihat, emosi yang kita rasakan, dan keputusan yang mungkin dipengaruhi selama waktu tersebut.

Kita mungkin tidak pernah membayar untuk setiap konten yang lewat di layar. Tetapi kita membayarnya dengan sesuatu yang tidak kalah berharga: waktu dan perhatian.

Sementara itu, waktu tidak pernah bisa dikembalikan.

Maka, di tengah derasnya konten viral, kemampuan menjaga perhatian menjadi semakin penting.

Bukan berarti kita harus berhenti mengikuti berita, menghindari perdebatan, atau bersikap tidak peduli terhadap persoalan sosial.

Justru sebaliknya. Kita perlu lebih sadar memilih isu yang layak mendapatkan perhatian, memeriksa informasi sebelum bereaksi, dan tidak membiarkan setiap provokasi menentukan arah pikiran kita.

Sebab, ada perbedaan antara menjadi masyarakat yang peduli dan menjadi masyarakat yang terus-menerus dibuat bereaksi.

Yang pertama lahir dari kesadaran. Yang kedua bisa lahir dari kebiasaan.

Penutup: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Di era ekonomi perhatian, ada ungkapan sederhana yang terasa semakin relevan:

Di mana ada viral, di situ ada cuan.

Namun, tidak semua yang viral bernilai baik. Tidak semua yang ramai penting. Dan tidak semua yang mendapatkan banyak perhatian layak mendapatkan kepercayaan.

Bagi pelaku bisnis, persoalannya bukan semata-mata bagaimana membuat orang melihat brand, melainkan bagaimana membangun persepsi yang benar dan pengalaman yang layak dipercaya.

Bagi masyarakat, persoalannya jauh lebih mendasar: bagaimana tetap mampu berpikir jernih ketika begitu banyak pihak berlomba mendapatkan perhatian kita.

Barangkali itulah paradoks terbesar era digital.

Kita hidup di zaman ketika informasi semakin mudah diperoleh, tetapi perhatian semakin sulit dijaga.

Dan ketika semua orang berlomba mencari perhatian, jangan sampai kita kehilangan kemampuan menentukan apa yang benar-benar pantas diperhatikan.


Motivo Insight — Memahami manusia, membangun persepsi, menciptakan brand yang bermakna.

Referensi bacaan:

  • Herbert A. Simon (1971), Designing Organizations for an Information-Rich World.
  • Brady, W. J., dkk. (2021), How Social Learning Amplifies Moral Outrage Expression in Online Social Networks, Science Advances.
  • Beknazar-Yuzbashev, G., dkk. (2024), A Model of Harmful Yet Engaging Content on Social Media, AEA Papers and Proceedings.
  • We Are Social & Meltwater (2025), Digital 2026: Indonesia.